BN Online, Makassar-—Terciptanya Inovasi Kapsul “Kantong Ajab Peduli Sampah Lingkungan Sekolah”, di UPT SPF SMP Negeri 22 Makassar menyulap sampah menjadi media pembelajaran,. Sehingga produksi sampah” karena kurangnya kepedulian peserta didik akan sampah. Sehingga produksi sampah di sekolah meningkat, utamanya sampah jajanan peserta didik. Hal inilah yang membuat sekolah menjadi kotor dan sampah berserakan di lingkungan sekolah.
Peserta didik juga kurang memahami dan mengetahui betapa pentingnya pemanfaatan sampah, padahal sampah juga memiliki banyak manfaat jika diolah dengan baik. Jika sampah diolah dengan tepat, maka sam0ah dapat digunakan sebagai media pembelajaran dan dapat menghasilkan uang.
Menurut, Kepala UPT SPF SMPN 22 Makassar, Dr. Hj. Salmah, S. Pd, M. Pd, menyampaikan, sampah adalah materi yang tidak terpakai lagi. Sampah terbagi menjadi sampah organik dan non organik. Sampah organik dihasilkan oleh makhluk hidup dan dapat terurai kembali secara alami, sebaliknya sampah non organik adalah sampah yang tidak mudah terurai sehingga membutuhkan waktu yang lama untuk terurai.
“Sampah yang tidak terurus akan menyebabkan beragam masalah jika tidak ditangani dengan baik, seperti masalah kesehatan maupun masalah keindagan lingkungan. Kini, permasalahan sampah menjadi isu global. Sampah yang terus bertambah, membuat sebagian orang berfikir dan melakukan aksi nyata bagaimana caranya mengatasi sampah,” ujarnya, Senin (07/10/2024).
Lebih lanjut, sebagai lembaga pendidikan, sekolah harus mampu membiasakan siswa menjaga lingkungan di sekitar sekolah agar nyaman, bersih, dan indah. Peran serta warga sekolah seperti kepala sekolah dan guru dalam memberi pengetahuan kepada siswa harus dimulai dari usia dini.
“Pembiasan dan keteladanan yang dilakukan oleh guru dan kepala sekolah dalam menjaga kebersihan akan memberikan dampak positif dan keterbiasaan siswa untuk menjaga lingkungan,” kata Dr. Hj. Salmah, S. Pd, M. Pd, selaku Kepala UPT SPF SMPN 22 Makassar.
Ide kreatif seperti pembiasaan dan keteladanan muncul dari guru pembimbing untuk mensukseskan program ini, saya sangat mengapresiasinya. Dengan adanya kegiatan pengolahan sampah di sekolah tersebut, menjadikan sampah yang tidak bernilai menjadi bernilai ekonomis dan menjadikan sekolah lebih rapi.
“Bersih dan sangat indah karena sampah sudah diolah sesuai dengan kondisi sampah masing masing, yaitu organik dan non organik,” tutup Dr. Hj. Salmah, S. Pd, M. Pd.















