BN Online, Jakarta-—Puluhan kapal komersial dalam beberapa hari terakhir menjatuhkan jangkar pada jarak tertentu di luar batas pelabuhan Iran, menurut data dan sumber pelayaran, seiring meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat menyusul pengerahan armada laut yang dipimpin USS Anraham Lincoln menuju Teluk Persia., 27 Januari 2026.
Sumber-sumber pelayaran, seperti dikutip Reuters (26/1), mengatakan bahwa pergerakan tersebut bersifat langkah pencegahan, mengingat ketegangan yang terjadi di tengah protes yang masih berlangsung di Iran. Batas pelabuhan menjadi area yang sensitif karena memiliki risiko lebih tinggi terhadap kerusakan tambahan (collateral damage) jika terjadi serangan udara terhadap infrastruktur di sekitarnya.
Seorang pejabat Amerika Serikat mengatakan pada Rabu bahwa AS menarik sebagian personel dari pangkalan militernya di Timur Tengah, setelah seorang pejabat senior Iran menyatakan bahwa Teheran telah memperingatkan negara-negara tetangganya bahwa Iran akan menyerang pangkalan-pangkalan Amerika jika Washington melancarkan serangan terhadap Iran.
Iran sangat bergantung pada perdagangan laut untuk impor melalui kapal curah kering, kapal kargo umum, dan kapal kontainer, serta pada kapal tanker minyak untuk ekspor minyak.
Jumlah kapal tanker yang memasuki zona ekonomi eksklusif (ZEE) Iran—wilayah perairan di sepanjang pesisir Teluk Persia dan Laut Kaspia yang membentang hingga 24 mil laut dan melampaui batas teritorial lokal sejauh 12 mil laut—melonjak dari satu kapal menjadi 36 kapal tanker antara 6 hingga 12 Januari, menurut analisis penyedia solusi intelijen maritim Pole Star Global.
Setidaknya 25 kapal pengangkut curah tercatat dalam kondisi berhenti di ZEE Iran di lepas pelabuhan utama Bandar Imam Khomeini, berdasarkan data dari penyedia pelacakan kapal dan analitik maritim MarineTraffic.
Sebanyak 25 kapal lainnya, termasuk kapal kontainer dan kapal kargo, juga menjatuhkan jangkar lebih ke selatan di lepas pelabuhan Bandar Abbas, menurut data MarineTraffic.
Israel melancarkan serangan udara pada Juni 2025 terhadap target-target di Bandar Abbas, lokasi di mana setidaknya 70 orang tewas dalam ledakan misterius pada April, dan pihak berwenang tidak menutup kemungkinan adanya aksi sabotase.
Di tengah upaya kepemimpinan Iran untuk meredam gelombang kerusuhan terburuk yang pernah dihadapi Republik Islam tersebut, Teheran berupaya mencegah campur tangan Presiden AS Donald Trump, yang berulang kali mengancam akan turun tangan untuk mendukung para pengunjuk rasa anti-pemerintah.
Tingkat gangguan terhadap sistem navigasi GNSS, termasuk GPS, meningkat menjadi kategori “substansial” di kawasan Teluk Persia dan Selat Hormuz selama sepekan terakhir, demikian disampaikan Combined Maritime Force Angkatan Laut AS dalam sebuah catatan pada Senin.
“Hal ini sangat mungkin disebabkan oleh langkah-langkah perlindungan pasukan yang diambil sehubungan dengan ketegangan politik yang sedang berlangsung di kawasan. Kapal-kapal yang melintasi wilayah ini dapat terdampak,” demikian bunyi catatan tersebut. (*).










