MBG dan Air Limbah Domestik: Sinergi Gizi dan Sanitasi untuk Generasi Sehat

BN Online, Makassar –Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia dan Badan Gizi Nasional merupakan langkah strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia sejak usia dini. Program ini bertujuan memastikan peserta didik memperoleh asupan gizi yang cukup untuk mendukung pertumbuhan fisik, kecerdasan, dan daya tahan tubuh.
Namun, keberhasilan MBG tidak hanya ditentukan oleh kualitas makanan yang disajikan. Ada aspek penting yang sering luput dari perhatian: pengelolaan air limbah domestik.

Setiap kegiatan penyediaan makanan—mulai dari proses memasak, mencuci bahan makanan, mencuci peralatan, hingga sisa konsumsi—menghasilkan limbah cair. Limbah ini termasuk dalam kategori air limbah domestik, yang umumnya mengandung sisa minyak, lemak, partikel makanan, deterjen, bahan pembersih dan mikroorganisme patogen.

Tanpa pengelolaan yang baik, limbah tersebut dapat mencemari tanah dan air tanah, menimbulkan bau tidak sedap, serta menjadi sumber penyakit seperti diare dan infeksi saluran pencernaan. Kondisi ini tentu bertolak belakang dengan tujuan utama MBG yang ingin meningkatkan kesehatan anak.

Apabila dapur penyedia MBG tidak memiliki sistem pengolahan limbah yang memadai, maka risiko yang dapat muncul antara lain, pencemaran lingkungan, kontaminasi sumber air bersih, meningkatnya penyakit berbasis lingkungan, penurunan kualitas sanitasi dan estetika lingkungan. Ironisnya, program yang bertujuan meningkatkan kesehatan justru dapat memicu masalah kesehatan baru bila aspek sanitasi diabaikan.

Solusi yang dapat diterapkan adalah pembangunan sistem pengolahan air limbah domestik seperti grease trap (perangkap lemak), septic tank standar kedap dan sesuai SNI dan IPAL Skala Komunal.

Di Kota Makassar, sistem seperti SPALD-T (Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik Terpusat) IPAL LOSARI telah diterapkan untuk mengurangi pencemaran lingkungan dan meningkatkan kualitas sanitasi.
Integrasi antara program MBG dan infrastruktur sanitasi akan menciptakan ekosistem yang sehat dan berkelanjutan.

Konsep kesehatan masyarakat modern menekankan bahwa gizi dan sanitasi adalah dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan. Anak yang mendapat makanan bergizi tetapi hidup di lingkungan tercemar tetap berisiko mengalami gangguan kesehatan.

Oleh karena itu, implementasi MBG idealnya disertai dengan edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), penguatan infrastruktur sanitasi, pengawasan kualitas air dan kebersihan dapur serta koordinasi lintas sektor antara pendidikan, kesehatan, dan pekerjaan umum.

Program MBG adalah investasi besar bagi masa depan bangsa. Namun, investasi ini akan lebih optimal jika didukung dengan sistem pengelolaan air limbah domestik yang baik. Dengan mengintegrasikan gizi dan sanitasi, kita tidak hanya memberi makan anak-anak Indonesia, tetapi juga menjaga lingkungan mereka tetap sehat.

Karena generasi unggul tidak hanya lahir dari makanan bergizi, tetapi juga dari lingkungan yang bersih dan aman.

Hamka Darwis, SH, MM
(Kepala UPT Pengelolaan Air Limbah Dinas PU Kota Makassar)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *