BN Online, Makassar–-Dalam upaya menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan bebas dari gangguan digital, UPT SPF SMP Negeri 1 Makassar resmi memperketat aturan penggunaan gadget saat jam belajar, Kamis (2/4/2026). Kebijakan ini disambut antusias oleh para guru dan orang tua siswa sebagai langkah revolusioner menuju pembelajaran berkualitas.
Saat dikonfirmasi awak media ini, Kepala SMPN 1, Dr. Suaib Ramli, S.Pd, M.Pd, menegaskan bahwa kebijakan ini bukan untuk memusuhi teknologi, melainkan untuk mengembalikan esensi interaksi langsung di kelas.
“Kami tidak anti-teknologi, tapi kami anti-distraksi. Siswa boleh membawa gadget, tetapi sejak bel masuk berbunyi hingga bel istirahat tiba, semua perangkat wajib disimpan dalam tas atau loker yang telah disediakan di setiap kelas,” tegasnya dengan nada berwibawa.
Lebih lanjut, Dr. Suaib menjelaskan bahwa pelanggar pertama akan mendapatkan teguran lisan, pengurangan poin kedisiplinan, dan jika diulang hingga tiga kali, gadget akan disimpan di kantor guru dan hanya bisa diambil oleh orang tua.
“Kami serius. Tidak ada pengecualian kecuali untuk kepentingan medis atau pembelajaran berbasis digital yang sudah dijadwalkan dan diawau langsung oleh guru pengampu,” tambahnya.
Diketahui, kebijakan ini lahir dari hasil evaluasi bersama antara pihak sekolah, komite sekolah, dan psikolog pendidikan. Temuan lapangan menunjukkan bahwa penggunaan gadget bebas selama jam belajar kerap menurunkan konsentrasi siswa, memicu kecurangan saat ujian, bahkan menjadi pemicu konflik sosial di lingkungan sekolah akibat konten negatif.
Sambungnya, pihak sekolah telah menyosialisasikan aturan ini sejak dua pekan lalu melalui pertemuan orang tua murid dan pemasangan spanduk di area gerbang sekolah.
“Kami juga menyediakan pojok konseling bagi siswa yang merasa cemas atau kecanduan gadget. Ini adalah proses adaptasi, bukan hukuman,” ujarnya.
Harapan besar disematkan pada kebijakan ini. Dr. Suaib Ramli berharap agar SMP Negeri 1 Makassar bisa menjadi percontohan bagi sekolah lain di Sulawesi Selatan dalam menerapkan disiplin digital yang humanis.
“Kami ingin melahirkan generasi yang cakap digital, bukan generasi yang dikendalikan oleh layar. Fokus pada guru, teman, dan buku. Itu kunci sukses sesungguhnya,” cetusnya.















