BN Online, Makassar – Suasana berbeda terlihat di halaman UPT SPF SMPN 14 Makassar pada Kamis (4/6/2026). Bukan deretan bangku ujian atau lembar jawaban, melainkan panggung warna-warni, alunan musik, dan gerakan tari yang memukau. Ya, sekolah ini menggelar ujian akhir mata pelajaran Seni Budaya untuk kelas 8 dengan konsep outdoor performance segala bentuk pertunjukan seni ditampilkan langsung di depan umum.
Mulai dari seni tari tradisional dan kontemporer, seni musik ansambel yang harmonis, vokal grup, hingga pameran karya lukisan siswa, semuanya tersaji apik. Para siswa tampak percaya diri menjadi bintang, sementara guru dan teman-teman lain bertindak sebagai penikmat sekaligus penguji.
Kegiatan ini diikuti oleh seluruh siswa kelas 8 yang dibagi ke dalam kelompok-kelompok seni. Setiap kelompok bertanggung jawab untuk satu jenis pertunjukan. Tak hanya tampil, mereka juga dinilai langsung oleh tim guru seni budaya berdasarkan kreativitas, kekompakan, penguasaan panggung, dan nilai estetika karya.
Kepala UPT SPF SMPN 14 Makassar, Muh. Sufriadi, S.Pd., M.Pd, mengatakan bahwa ujian berbasis pertunjukan ini adalah terobosan yang sudah lama ia impikan.
“Ini bukan sekadar ujian, ini adalah panggung aktualisasi diri anak-anak kita. Selama ini Seni Budaya sering dianggap remeh atau hanya teori. Padahal, jiwa seni adalah bagian penting dari karakter dan kecerdasan emosional siswa. Dengan tampil di halaman sekolah terbuka, mereka belajar keberanian, kerja tim, dan tanggung jawab,” ujarnya di sela-sela acara.
Lebih jauh, Sufriadi menjelaskan bahwa metode ujian seperti ini sejalan dengan Kurikulum Merdeka yang menekankan pada proyek penguatan profil pelajar Pancasila.
“Kami ingin anak-anak tidak hanya pintar secara kognitif, tetapi juga memiliki dimensi kreatif, gotong royong, dan mandiri. Lihatlah bagaimana mereka merancang koreografi sendiri, menyusun aransemen musik, atau bahkan mencampur cat untuk lukisan. Itu semua adalah proses belajar yang luar biasa,” tambahnya.
Selain itu, penampilan vokal grup dari kelas 8 yang membawakan lagu daerah “Anging Mamiri” dengan aransemen sukses membuat penonton terpukau.
Beberapa grup ansambel juga menampilkan perpaduan alat musik rekorder, gitar, dan keyboard yang dimainkan secara kompak. Sementara di sudut lain, deretan lukisan siswa dengan tema “Makassarku Masa Kini” dipajang di atas kanvas dan kertas gambar, menggambarkan potret kota dengan gaya ekspresif yang segar.
Diketahui, persiapan ujian akhir ini sudah dilakukan sebelumnya. Para siswa didampingi guru seni budaya berlatih setiap jam ekstrakurikuler dan pulang sekolah.
“Kami sempat khawatir karena harus tampil di luar ruangan. Tapi justru tantangan itu yang membuat kami lebih semangat. Rasanya senang sekali, tidak tegang seperti ujian tertulis. Kami bisa menunjukkan bakat kami,” ujar siswa kelas 8.
Tambahnya, pihak sekolah berencana menjadikan model ujian seperti ini sebagai tradisi tahunan, bahkan akan melibatkan orang tua dan masyarakat sekitar sebagai penonton.
“Ke depan, kami ingin halaman sekolah ini benar-benar menjadi ruang publik yang hidup. Seni itu untuk dinikmati bersama, bukan hanya untuk dinilai di atas kertas,” tegas Sufriadi.
Kegiatan seperti ini dapat menumbuhkan ekosistem seni yang sehat di kalangan pelajar Makassar, sekaligus melahirkan generasi yang tidak cerdas secara akademik, tetapi juga berjiwa besar dan berkreativitas tinggi.
“Selamat untuk semua siswa kelas 8. Kalian telah membuktikan bahwa ujian bisa menjadi pesta, dan belajar seni adalah merayakan kehidupan,” tutup Sufriadi dengan senyum bangga.















