BN Online, Makassar-–Di tengah gempuran teknologi kecerdasan buatan (AI) yang kian masif, UPT SPF SDI Pannampu 3 Kota Makassar justru mengambil langkah progresif. Sekolah yang terletak di Kecamatan Tallo ini tidak sekadar menjadi penonton, melainkan aktor yang memanfaatkan AI sebagai mitra untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
Kepala UPT SPF SDI Pannampu 3, Salvia Salmawati, S.Pd.I., M.Pd., baru-baru ini membagikan refleksi mendalam tentang pemanfaatan Chat Generative Pre-Trained Transformer (ChatGPT) dalam mengembangkan bahan ajar di era digital. Baginya, ChatGPT bukanlah ancaman yang akan menggantikan peran guru, melainkan mitra reflektif yang membantu merancang pembelajaran lebih adaptif.
Penggunaan ChatGPT berawal dari keresahan Salvia menghadapi realitas di kelas. Ia menyadari bahwa setiap murid memiliki kemampuan, minat, dan kecepatan belajar yang berbeda-beda. Namun di sisi lain, guru dituntut menyiapkan pembelajaran yang bermakna dan kontekstual dengan waktu persiapan yang terbatas.
“Bahan ajar yang tersedia sering kali memiliki bahasa terlalu formal, contoh yang jauh dari kehidupan murid, atau tingkat kesulitan yang belum sesuai dengan kemampuan mereka,” ungkap Salvia, kepada awak media ini, pada Sabtu (25/7/2026).
Kondisi ini diperparah dengan keterlibatan murid yang belum optimal. Beberapa murid cenderung diam saat diminta berpendapat. Setelah direfleksi, ternyata materi yang digunakan belum dekat dengan dunia mereka sehari-hari.
Di titik inilah Salvia mulai memanfaatkan ChatGPT. Namun dengan satu prinsip tegas: keputusan tentang isi, nilai, metode, dan penilaian tetap berada di tangan guru.
“Pendidikan pada dasarnya adalah proses manusiawi. Gurulah yang memahami konteks murid, membangun relasi, menanamkan nilai, dan menumbuhkan harapan masa depan,” tegasnya.
Praktik penggunaan ChatGPT di SDI Pannampu 3 beragam, mulai dari membantu membuat draf awal bahan ajar yang lebih sederhana, menyusun contoh-contoh konkret yang dekat dengan keseharian murid, hingga mencari alternatif aktivitas belajar yang lebih interaktif.
Bagi Salvia, penggunaan AI yang kritis dan bertanggung jawab memiliki hubungan erat dengan upaya mewujudkan Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur. Kedaulatan diwujudkan melalui kemampuan guru dan murid menggunakan teknologi secara sadar dan tidak mudah percaya pada informasi hasil mesin. Keadilan dihadirkan melalui bahan ajar yang mampu menjangkau kebutuhan belajar murid yang beragam. Sementara kemakmuran dibangun melalui penguatan literasi digital, kreativitas, dan kemampuan berpikir kritis.
Meski banyak manfaat, Salvia mengakui ada sejumlah tantangan. Guru perlu meningkatkan literasi AI agar mampu menggunakan teknologi secara kritis dan bertanggung jawab. Sekolah juga perlu membangun budaya penggunaan AI yang sehat melalui aturan etika, perlindungan data, dan penguatan literasi digital.
“Praktik pemanfaatan ChatGPT perlu terus didokumentasikan sebagai praktik baik. Dokumentasi tersebut penting bukan hanya untuk menunjukkan keberhasilan, tetapi juga untuk membagikan proses belajar guru, khususnya terkait apa yang berhasil, apa yang belum berhasil, dan bagaimana pembelajaran diperbaiki,” cetusnya.
Langkah UPT SPF SDI Pannampu 3 ini sejalan dengan temuan berbagai penelitian yang menunjukkan bahwa ChatGPT memiliki potensi besar dalam meningkatkan produktivitas dan efisiensi tugas-tugas akademis. Sekolah ini pun semakin mantap melangkah di era pembelajaran digital, tanpa pernah melupakan esensi pendidikan sebagai proses yang humanis.
Dengan kolaborasi cerdas antara guru dan teknologi, SDI Pannampu 3 membuktikan bahwa sekolah dasar pun bisa menjadi pelopor inovasi pembelajaran di era digital.















