BN Online, Makassar—Sebuah angin segar berhembus di UPT SPF SDI Mariso II Makassar. Di tengah gencarnya transformasi pembelajaran era Kurikulum Merdeka, sekolah yang telah meraih predikat Akreditasi A ini melahirkan inovasi sederhana namun berdampak luas: JUSI Jurnal Refleksi Siswa.
Alhamdulillah, JUSI telah berjalan sejak tahun ajaran 2025/2026 dan terus berlanjut hingga kini. Inovasi ini melibatkan seluruh siswa dari kelas 1 hingga 6, menjadikannya program literasi reflektif yang menyentuh semua jenjang di sekolah dasar tersebut.
Kepala UPT SPF SDI Mariso II, Rahmawati, S.Pd., Gr., M.Pd. , menjelaskan bahwa lahirnya JUSI berakar pada tuntutan Kurikulum Merdeka yang menuntut pembelajaran berdiferensiasi dan berorientasi pada kebutuhan individual peserta didik.
“Jurnal refleksi tertulis menjadi dokumen rekam jejak (evidence-based) yang membantu guru mengevaluasi keberhasilan strategi mengajar, media yang digunakan, serta efektivitas pendekatan di kelas,” ujar Rahmawati saat ditemui awak media.
Di lingkungan UPT SPF SDI Mariso II, berbagai dinamika belajar—seperti variasi motivasi dan capaian hasil belajar siswa pada mata pelajaran tertentu—memerlukan evaluasi berkelanjutan. Tanpa catatan tertulis, evaluasi pembelajaran cenderung bersifat subjektif dan mudah terlupakan. JUSI hadir sebagai solusi.
Lebih lanjut, Rahmawati menjelaskan bahwa jika jurnal refleksi diterapkan pada peserta didik sejak dini, siswa SD dilatih untuk mengenali sejauh mana pemahaman mereka terhadap materi, mengidentifikasi kesulitan belajar yang dihadapi, serta mengembangkan pola pikir bertumbuh (growth mindset) dan kejujuran akademis melalui ungkapan perasaan serta catatan pribadi belajar.
Untuk mempermudah penerapannya, JUSI menggunakan kerangka sederhana model 4F (atau 4P):
· Facts (Peristiwa): Apa saja yang telah dilakukan dalam proses pembelajaran?
· Feelings (Perasaan): Apa yang dirasakan siswa selama proses pembelajaran?
· Findings (Pembelajaran): Pelajaran atau insight apa yang diperoleh?
· Future (Penerapan): Langkah nyata apa yang akan diperbaiki pada pertemuan berikutnya?
Kerangka ini memungkinkan siswa dari berbagai tingkatan kelas—mulai dari kelas 1 hingga 6 untuk menuangkan refleksi mereka dengan cara yang sesuai dengan kemampuan masing-masing.
Selain manfaat bagi siswa, JUSI juga mendorong terciptanya budaya kolaborasi di kalangan guru. Melalui catatan refleksi yang terstruktur secara tertulis, para pendidik di UPT SPF SDI Mariso II dapat saling berbagi kendala dan praktik baik (best practices) saat diskusi Komunitas Belajar (Kombel) di sekolah.
Diketahui, Sebelumnya, sekolah ini telah sukses menjalankan program Market Class, sebuah kegiatan kewirausahaan yang kini memasuki tahun kedua pelaksanaannya. Selain itu, sekolah juga menghadirkan inovasi MULIA (Murid Literasi Al-Qur’an), yang bertujuan melatih peserta didik agar mampu membaca dan menulis huruf Al-Qur’an dengan lancar dan benar, menghafalkan surat-surat pendek serta bacaan salat, sekaligus menanamkan budi pekerti yang baik sesuai ajaran Islam sejak dini.
Kini, hadir pula JUSI (Jurnal Refleksi Siswa) sebagai inovasi terbaru yang semakin memperkaya upaya sekolah dalam membangun budaya refleksi, literasi, dan penguatan karakter peserta didik.
Meski demikian, Rahmawati mengakui bahwa implementasi JUSI tidak sepenuhnya mulus. Tantangan utama adalah membiasakan siswa, terutama di kelas rendah, untuk menuangkan pikiran dan perasaan mereka secara tertulis.
“Kami melakukan pendekatan bertahap. Untuk kelas 1-2, refleksi bisa berupa gambar atau kalimat sederhana. Kelas 3-6 mulai diajak menulis paragraf pendek. Yang terpenting adalah proses, bukan hasil,” sambungnya.
Lanjutnya, pihak sekolah berkomitmen untuk terus mengevaluasi dan meningkatkan kualitas pelaksanaan JUSI. “Kami ingin JUSI tidak sekadar menjadi rutinitas, tetapi benar-benar menjadi ruang bagi siswa untuk mengenali diri mereka sendiri sebagai pembelajar,” ujar Rahmawati, pada Sabtu (16/8/2026).
Harapan besar disematkan pada program ini. Ke depannya, JUSI diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain di Makassar bahkan di Sulawesi Selatan, dalam mengembangkan budaya reflektif sejak usia dini. Dengan JUSI, UPT SPF SDI Mariso II membuktikan bahwa inovasi tidak selalu harus berwujud teknologi canggih kadang, secarik kertas dan kejujuran hati sudah cukup untuk mengubah wajah pendidikan.















