BN Online, Makassar—Semangat menjaga lingkungan sekaligus membangun karakter peserta didik terus digaungkan UPT SPF SD Inpres Toddopuli I Kecamatan Panakkukang, Kota Makassar. Melalui inovasi “Sahabat Hijau”, sekolah mengajak seluruh warga sekolah, mulai dari siswa, guru, hingga orang tua, untuk bersama-sama menciptakan lingkungan sekolah yang hijau, asri, dan penuh tanggung jawab, Rabu (19/8/2026).
Program ini mengusung konsep sederhana namun sarat makna: “Satu Anak, Satu Tanaman, Satu Tanggung Jawab.” Setiap peserta didik didorong membawa, menanam, dan merawat minimal satu pot tanaman atas nama pribadi di lingkungan sekolah.
Bukan sekadar menanam, setiap murid memiliki tanggung jawab untuk memastikan tanaman yang menjadi “sahabatnya” dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.
Setiap tanaman diberi identitas berupa nama pemilik serta nama tanaman. Murid juga mencatat perkembangan tanaman dalam Buku Jurnal Sahabat Hijau, yang menjadi rekam jejak pertumbuhan sekaligus jadwal perawatan tanaman masing-masing.
Jika tanaman mulai layu atau mengalami gangguan pertumbuhan, murid bertugas melakukan perawatan, mulai dari menyiram, membersihkan, memberikan pupuk, hingga memastikan tanaman mendapatkan lingkungan yang sesuai.
Kepala SD Inpres Toddopuli I, Satir, S.Pd., M.Pd., mengatakan, inovasi Sahabat Hijau dirancang bukan hanya untuk memperbanyak tanaman di lingkungan sekolah, tetapi juga menjadi sarana pendidikan karakter bagi peserta didik.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa konsep satu anak satu tanaman memberikan pengalaman nyata kepada murid mengenai arti sebuah tanggung jawab. Anak tidak hanya diminta menanam, tetapi juga harus menjaga, mengamati, mencatat, dan memastikan tanaman tersebut tetap hidup.
“Melalui Sahabat Hijau, kami ingin menanamkan kepada anak bahwa setiap sesuatu yang kita mulai harus dirawat dan dipertanggungjawabkan. Tanaman yang mereka tanam menjadi bagian dari proses belajar sekaligus menjadi sahabat yang harus dijaga,” ujarnya.
Selain itu, Sahabat Hijau juga terintegrasi dengan upaya pengelolaan lingkungan sekolah. Sampah organik yang dihasilkan dapat diolah menjadi kompos dan dimanfaatkan untuk menyuburkan tanaman.
Program tersebut juga memiliki keterkaitan dengan inovasi DAUN EMAS (Daur Ulang Organik Menjadi Aset Sekolah), sehingga penghijauan dan pengelolaan sampah dapat berjalan sebagai sebuah ekosistem yang saling mendukung.
Tambahnya, tanaman yang digunakan dalam program Sahabat Hijau tidak terbatas pada satu jenis. Peserta didik dapat memilih tanaman hias, tanaman obat keluarga (TOGA), tanaman buah, maupun jenis tanaman lainnya yang sesuai untuk lingkungan sekolah.
Dengan demikian, kegiatan tersebut dapat menjadi media pembelajaran lintas mata pelajaran. Tanaman dapat dimanfaatkan sebagai objek pembelajaran IPAS, Matematika, Bahasa Indonesia, hingga pembelajaran berbasis proyek.
Meski demikian, keunggulan utama Sahabat Hijau terletak pada sistem setelah penanaman. Penghijauan tidak berhenti ketika bibit ditanam, tetapi dilanjutkan dengan proses perawatan, pemantauan, pencatatan, dan evaluasi.
Setiap tanaman memiliki data individu yang mencatat pemilik, jenis tanaman, jadwal perawatan, hingga perkembangan pertumbuhannya. Sistem tersebut membuat keberhasilan program dapat diukur sekaligus mendorong murid untuk lebih disiplin.
Sambungnya, program ini diharapkan mampu menumbuhkan berbagai karakter positif pada peserta didik, seperti tanggung jawab, disiplin, kepedulian, kemandirian, gotong royong, dan kreativitas.
Konsep tersebut juga memungkinkan terjadinya efek berantai. Ketika setiap anak memiliki satu tanaman, setiap kelas akan memiliki tanaman sebanyak jumlah peserta didiknya. Lambat laun, lingkungan sekolah menjadi semakin hijau dan asri.
Lebih jauh, kebiasaan tersebut diharapkan terbawa hingga ke rumah. Anak dapat mengajak orang tua untuk ikut menanam dan merawat tanaman, sehingga kepedulian terhadap lingkungan tidak berhenti di lingkungan sekolah, tetapi berkembang di keluarga dan masyarakat.
Harapan, inovasi Sahabat Hijau dapat menjadi budaya positif yang terus tumbuh dan berkembang di SD Inpres Toddopuli I. Program ini juga diharapkan dapat direplikasi oleh sekolah lain, instansi, keluarga, maupun masyarakat sebagai gerakan sederhana untuk membangun lingkungan hijau sekaligus membentuk generasi yang peduli dan bertanggung jawab.
Sebab, melalui satu anak, satu tanaman, dan satu tanggung jawab, sekolah tidak hanya sedang menanam pohon, tetapi juga sedang menanam karakter untuk masa depan.















