SD Negeri Mongisidi 3 Bentuk Tim MONTIG SAHABAT, Perkuat Komitmen Wujudkan Sekolah Aman dan Nyaman

BN Online, Makassar—UPTD SPF SD Negeri Mongisidi 3 Makassar terus memperkuat komitmennya dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, harmonis, dan menyenangkan bagi seluruh peserta didik.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui pembentukan Tim MONTIG SAHABAT yang merupakan akronim dari Mongisidi Tiga Sekolah Aman, Harmonis, Aktif, Bersahabat, Asri, dan Terbuka. Pembentukan tim ini dilakukan sebagai langkah strategis sekolah dalam membangun budaya sekolah yang positif dan memberikan ruang perlindungan serta pendampingan bagi peserta didik.

Kegiatan tersebut berlangsung pada Sabtu (5/9/2026), sekaligus dirangkaikan dengan pengukuhan DUTA MONTIG SAHABAT dan penandatanganan komitmen bersama untuk mewujudkan sekolah yang aman, nyaman, kondusif, dan menyenangkan.

Langkah ini sejalan dengan Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman, yang menekankan pentingnya menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, inklusif, serta memuliakan peserta didik.

Tim MONTIG SAHABAT diketuai oleh M. Abdi Irawan, S.Pd.I., dengan anggota Evayana, S.Pd.I., Nurul Magfira, S.Pd., dan Andi Arfan Kamaluddin, S.Pd. Pembentukan tim tersebut menjadi semakin penting mengingat jenjang sekolah dasar pada umumnya tidak memiliki layanan Guru Bimbingan dan Konseling (BK) seperti pada jenjang SMP maupun SMA.

Karena itu, sekolah perlu memiliki mekanisme pendampingan dan pelayanan yang dapat menjadi ruang bagi peserta didik untuk menyampaikan berbagai persoalan maupun kebutuhan mereka.

Kepala SD Negeri Mongisidi 3, Wiantik Aksari Basri, S.Pd., M.Pd., Gr., mengatakan pembentukan Tim MONTIG SAHABAT merupakan bagian dari upaya sekolah menghadirkan sistem pelayanan yang lebih dekat dengan peserta didik.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa sekolah tidak hanya ingin menciptakan lingkungan yang aman secara fisik, tetapi juga membangun suasana yang membuat peserta didik merasa dihargai, didengar, diterima, dan nyaman ketika berada di sekolah.

“Sekolah harus menjadi tempat yang aman dan menyenangkan bagi anak. Mereka harus memiliki ruang untuk menyampaikan apa yang dirasakan, baik terkait pembelajaran, pertemanan maupun persoalan lainnya,” ujarnya.

Selain itu, Tim MONTIG SAHABAT telah menyusun sejumlah program yang akan dilaksanakan selama satu tahun ke depan. Di antaranya penyediaan kotak aduan, pelayanan pengaduan secara online, serta pembentukan DUTA MONTIG SAHABAT dari kalangan peserta didik.

Keberadaan DUTA MONTIG SAHABAT diharapkan menjadi bagian dari gerakan bersama untuk membangun budaya saling menghargai, peduli terhadap sesama, menjaga kebersihan dan keasrian lingkungan, serta berani menyampaikan persoalan melalui saluran yang tepat.

Diketahui, pengukuhan DUTA MONTIG SAHABAT pada Sabtu (5/9/2026) turut dihadiri kepala sekolah, tenaga pendidik dan kependidikan, ketua komite, perwakilan orang tua siswa, serta para DUTA MONTIG SAHABAT yang dikukuhkan.

Dalam kegiatan tersebut, seluruh unsur sekolah juga melakukan penandatanganan komitmen bersama sebagai bentuk kesepakatan untuk secara konsisten membangun sekolah yang aman, nyaman, kondusif, dan menyenangkan.

Meski demikian, keberhasilan program tersebut tidak hanya bergantung pada tim yang telah dibentuk. Kolaborasi antara sekolah, peserta didik, orang tua, komite, dan seluruh warga sekolah menjadi kunci agar budaya aman dan nyaman dapat tumbuh secara berkelanjutan.

Sambungnya, sekolah juga akan terus melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan program sehingga berbagai bentuk layanan dan pendampingan dapat disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik.

“Ini bukan hanya program satu kelompok atau satu tim, tetapi merupakan gerakan seluruh warga sekolah. Kita ingin membangun kesadaran bersama bahwa setiap anak berhak merasa aman, nyaman, dihargai, dan mendapatkan perlakuan yang baik di lingkungan sekolah,” tuturnya.

Harapannya, kehadiran Tim MONTIG SAHABAT dan DUTA MONTIG SAHABAT dapat menjadi penguat budaya positif di SD Negeri Mongisidi 3 Makassar. Dengan kolaborasi seluruh warga sekolah, lingkungan belajar yang aman, harmonis, aktif, bersahabat, asri, dan terbuka diharapkan tidak sekadar menjadi slogan, tetapi benar-benar menjadi budaya yang hidup dalam keseharian sekolah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *