BN Online, Makassar — Ada sesuatu yang berbeda di pagi Jumat, 1 Mei 2026, di sepanjang Jl. Pongtiku, Kelurahan La’latang. Bukan sekadar aktivitas rutin, tetapi denyut kebersamaan yang terasa lebih kuat dari biasanya. Di titik inilah, Camat Tallo, Andi Husni, S.STP., M.Si., bersama Kasi Kebersihan dan Pertamanan Kecamatan Tallo serta Lurah La’latang, turun langsung memantau jalannya giat Jumat Bersih tingkat Kecamatan Tallo.
Di balik langkah-langkah sederhana—sapu yang bergerak, cangkul yang mengangkat endapan drainase—tersimpan pesan yang lebih dalam: perubahan besar selalu dimulai dari tindakan kecil yang dilakukan bersama.
Satgas Kebersihan Kecamatan Tallo bersinergi dengan para Ketua RT-RW, tokoh masyarakat, hingga warga sekitar. Mereka bergotong royong membersihkan pekarangan, ruas jalan, hingga melakukan normalisasi drainase yang selama ini menjadi titik rawan. Aktivitas ini bukan sekadar kerja bakti, melainkan bentuk nyata kepedulian terhadap lingkungan yang selama ini sering luput dari perhatian.
Lebih lanjut, momen ini ditutup dengan silaturahmi hangat antara Pemerintah Kecamatan Tallo dan para Ketua RT-RW Kelurahan La’latang. Hadir pula Anggota DPRD Kota Makassar Dapil 2, H. Ismail, yang ikut membuka ruang komunikasi dua arah. Di sinilah suara masyarakat menemukan jalannya membahas persoalan persampahan yang selama ini menjadi tantangan, sekaligus mencari solusi yang lebih konkret dan berkelanjutan.
Selain itu, Camat Tallo menyampaikan pesan yang tampak sederhana namun memiliki dampak jangka panjang: pentingnya pemilahan dan pengelolaan sampah secara mandiri, dimulai dari rumah masing-masing. Sebuah langkah kecil yang jika dilakukan serentak, bisa menjadi kunci menuju perubahan besar.
Diketahui, program ini merupakan bagian dari visi besar Pemerintah Kota Makassar untuk mewujudkan Makassar Bebas Sampah 2029. Sebuah target yang terdengar jauh, namun sejatinya sedang dibangun perlahan—melalui gerakan-gerakan seperti yang terjadi di La’latang hari itu.
Sambungnya, keberhasilan program ini tidak hanya bergantung pada kebijakan, tetapi pada kesadaran kolektif masyarakat. “Lingkungan bersih bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi tanggung jawab kita semua,” menjadi pesan yang tersirat dari kegiatan tersebut.
Harapan ke depan, gerakan seperti ini tidak hanya menjadi rutinitas mingguan, tetapi berubah menjadi budaya yang mengakar. Karena di balik sapu dan cangkul yang bekerja hari ini, tersimpan masa depan kota yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.















