Menuju Zero Waste, Kecamatan Tallo Gencarkan Sosialisasi Pengolahan Sampah Organik

BN Online, Makassar—Pemerintah Kecamatan Tallo, Kota Makassar, menunjukkan komitmen serius dalam penanganan krisis sampah organik dengan menggelar sosialisasi kolaborasi pengolahan sampah berbasis lingkungan. Kegiatan yang berlangsung di Aula Kantor Camat Tallo pada Kamis (23/4/2026) ini menghadirkan dua narasumber kompeten dan diikuti sekitar 100 peserta, terdiri atas lurah, ketua RW, serta sembilan pengelola MBG (Makan Bergizi Gratis) se-Kecamatan Tallo.

Acara dibuka dan dipandu oleh Sekretaris Camat Tallo, Dr. Bau Asseng, S.T., M.Si. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa sosialisasi ini bertujuan meningkatkan pemahaman warga akan pentingnya pemilahan sampah sejak dari sumbernya.

“Kami imbau warga agar mampu mengelola sampah organik secara mandiri di tingkat rumah tangga sebelum dilakukan pengangkutan. Ini langkah konkret mengurangi beban Tempat Pemrosesan Akhir (TPA),” ujarnya.

Materi pertama disampaikan praktisi lingkungan sekaligus anggota Dewan Lingkungan Hidup, Tjing Ming Nelly, S.E., M.M., dari International Nature Loving Association (INLA). Ia memaparkan proses pembuatan eco enzyme—cairan serbaguna hasil fermentasi sisa buah dan sayuran.

“Eco enzyme bisa digunakan untuk pupuk organik, cairan pembersih lantai, mencuci piring, bahkan menghilangkan bau. Selain ramah lingkungan, ini juga mengurangi pengeluaran rumah tangga,” jelas Nelly di hadapan peserta yang antusias.

Dalam sesi tanya jawab, Nelly memerinci bahan-bahan sederhana serta manfaat eco enzyme yang dinilai mampu menekan volume sampah organik hingga 30 persen di tingkat rumah tangga. Sebagai bentuk dukungan, setiap peserta mendapatkan produk eco enzyme gratis dari INLA.

Materi kedua disampaikan akademisi lingkungan dari Sekolah Tinggi Teknologi Nusantara Indonesia, Program Studi Teknik Lingkungan, Cecilia Sherly Tanri, S.T., M.Si. Ia memaparkan pemanfaatan komposter sebagai solusi pengolahan sampah organik skala rumah tangga dan komunal.

“Menjaga kebersihan lingkungan adalah tanggung jawab bersama. Komposter tidak hanya mengurai sampah, tapi menghasilkan pupuk cair dan padat yang bermanfaat bagi tanaman warga,” tegas Cecilia.

Para peserta, khususnya perwakilan RW, tampak aktif berdiskusi. Mereka menyoroti teknis pembuatan komposter mandiri serta potensi kolaborasi dengan pengelola MBG yang setiap hari menghasilkan sisa bahan makanan.

Kegiatan dilanjutkan dengan dialog bersama pengelola SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) terkait pengelolaan sampah dapur, termasuk pembahasan mengenai kewajiban retribusi sampah untuk dapur SPPG.

Diketahui, Kecamatan Tallo selama ini menghadapi tantangan volume sampah organik yang cukup tinggi, terutama dari pasar tradisional dan dapur umum. Sambungnya, sosialisasi ini menjadi langkah awal kolaborasi antara pemerintah kecamatan, akademisi, pegiat lingkungan, serta pengelola program MBG.

Harapannya, setiap RW di Tallo mampu memiliki eco enzyme dan komposter mandiri. “Kami targetkan dalam tiga bulan ke depan, setidaknya 50 persen RW di Tallo telah mempraktikkan pengolahan sampah organik secara mandiri,” pungkas Sekretaris Camat Tallo, Dr. Bau Asseng.

Dengan semangat kolaborasi, Tallo bergerak menuju kecamatan berbasis zero waste pertama di Makassar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *