Mangrove di Pasangkayu Sebuah Potensi Wisata Alam?

BN Online, Pasangkayu–Kabupaten Pasangkayu adalah salah satu kabupaten di Sulawesi Barat. Wilayah nya terbentang dari Sardjo berbatasan dengan Kabupaten Donggala Provinsi Sulteng sampai dengan di Benggahulu berbatasan dengan Kabupaten Mamuju Tengah (Mateng) Provinsi Surbar, sehingga Pasangkayu dikenal sebagai kabupaten yang memiliki garis pantai yang cukup panjang.
Pasangkayu juga di kenal sebagai salah satu sentra penghasil minyak kelapa sawit, baik yang berasal perusahaan maupun kebun masyarakat sebagai kebun plasma atau swadaya. Dengan dukungan beberapa pabrik kelapa sawit (PKS) , produksi tandan buah sawit sampai saat ini dapat terkelola dengan baik menjadi minyak kelapa sawit atau CPO ( crude palm oil ). Demikian juga pemasaran produksi, dengan dukungan pelabuhan / dermaga yang terletak di Tanjung Bakau Desa Ako dan Bone Manjing sampai dengan saat ini tidak mengalami kendala yang berarti.
Pada tahun 2009, salah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit di wilayah Pasangkayu, PT Letawa mencanangkan program Astra Mangrove Conservatioan ( AMC ) berupa penanaman mangrove di pesisir pantai Desa Jengeng Raya , Desa Tikke dan Desa Ako Tanjung Bakau. Program tersebut merupakan respon atas kondisi pesisir pantai rusak akibat abrasi.
Menurut Rustam S.Hut, staff konservasi PT Letawa sampai dengan saat ini telah menanam mangrove tidak kurang dari 292.000 di tiga tempat tersebut dan sampai sekarang program tersebut masih berlangsung.
“Pada tahun 2014 kami di berikan anugrah dari pemerintah pusat berupa piala Kalpataru yang diserahkan langsung Wakil Presiden saat itu“, kata Rustam sambil menjelaskan beberapa prestasi yang pernah di raih PT Letawa.
Menakar mangrove sebagai potensi wisata
Setelah lebih 10 tahun berlalu, kondisi mangrove yang di tanam sejak tahun 2009 menunjukkan tingkat pertumbuhan yang sangat menggembirakan. Berbagai biota laut seperti ikan, kepiting mudah di temukan karena hutan mangrove memang dikenal sebagai media yang bagus untuk berkembangbiak biota laut tersebut.

Selain itu pula, keberadaan hutan mangrove juga telah menjadi benteng hijau yang kuat untuk menahan bahaya abrasi yang sering terjadi beberapa dekade lalu.
Terkait dengan potensi wisata, Kepala Desa (Kades) Tikke H Thamrin S saat diwawancarai mengungkapkan bahwa dirinya sudah mendorong kawasan hutan mangrove di Desa Tikke dan Desa Jengeng Raya sebagai daerah yang berpotensi menjadi daerah tujuan wisata lokal.
“Dibeberapa kesempatan MUSREMBANG Kabupaten Pasangkayu , saya sudah sampaikan ke forum tentang potensi wisata mangrove di Tikke dan Jengeng Raya “, ungkapnya.
Thamrin juga mengatakan bahwa dirinya sudah siapkan anggarkan melalui Anggaran Dana Desa untuk memperbaiki dan menyiapkan infrastrukturnya, akan tetapi Desanya tidak punya anggaran untuk perbaikan akses jalan menuju lokasi tersebut.
“Jalan menuju hutan mangrove Desa Tikke masih ada beberapa titik yang rusak dan becek dan kami berharap Dinas Pekerjaan Umum dapat membantu menyelesaikan masalah tersebut“, ujarnya.
Melihat potensi hutan mangrove sebagai wisata alam di Pasangkayu, mungkin sudah saatnya pemerintah Kabupaten Pasangkayu bersama Pemerintah Kecamatan Tikke Raya dan Pemerintah Desa Tikke untuk bahu membahu mewujudkan mimpi bersama tersebut.
Dengan terbentuknya daerah wisata mangrove , berarti dapat juga membuka peluang usaha dan lapangan kerja baru di samping sebagai fungsi penahan abrasi dan penyedia media kembang biaknya biota laut. (E Syam)
 
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *