BN Online, Makassar—Sepanjang bulan Februari, proses pembelajaran di SMP Negeri 25 Makassar berlangsung tertib dan terukur sesuai dengan kalender pendidikan semester genap. Kegiatan belajar mengajar berjalan normal dengan penguatan materi akademik di setiap jenjang kelas, Kamis (29/1/2026).
Namun sekolah tidak berhenti pada capaian kurikulum. Di sela kegiatan belajar, manajemen sekolah mengintensifkan pembinaan karakter melalui refleksi keagamaan, penguatan etika pergaulan, serta penanaman budaya saling menghargai di lingkungan sekolah.
Kegiatan ini dirancang sederhana namun substansial—menanamkan nilai tanggung jawab, kedisiplinan, dan sopan santun sebagai fondasi pembentukan generasi muda. Guru berperan aktif dalam pengawasan dan pembimbingan, memastikan suasana sekolah tetap kondusif dan edukatif.
Pendekatan ini memperlihatkan arah kebijakan yang jelas: keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan kekuatan karakter.
Di tengah tuntutan prestasi akademik, SMP Negeri 25 Makassar memilih berdiri tegak pada prinsip bahwa kualitas lulusan tidak hanya diukur dari angka, tetapi dari integritas yang melekat pada diri setiap siswa.
Kepala UPT SPF SMPN 25 Makassar, Drs. H. Nurhadi Taiya, M.Pd mengatakan, pihaknya terus memastikan bahwa seluruh proses pembelajaran tidak hanya terfokus pada target kurikulum, tetapi juga pada pembentukan karakter siswa yang kuat.
“Lebih lanjut, kami memandang bahwa keberhasilan pendidikan adalah ketika siswa tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki akhlak yang baik dan kedisiplinan yang tinggi. Oleh karena itu, pembinaan karakter kami lakukan secara terintegrasi dalam keseharian mereka di sekolah,” ujarnya.
Selain itu, mantan Kepala UPT SPF SDN Bontoala II ini juga menyampaikan bahwa keterlibatan aktif para guru dalam membimbing dan mengawasi siswa menjadi kunci utama terciptanya lingkungan belajar yang kondusif.
Diketahui, SMP Negeri 25 Makassar yang berlokasi di Jalan Landak, Kecamatan Rappocini ini terus berupaya menghadirkan inovasi pembelajaran yang seimbang antara pencapaian akademik dan pembinaan karakter religius.
Sambungnya, berbagai kegiatan refleksi keagamaan dan penguatan etika pergaulan dilakukan secara rutin tanpa membebani siswa, sehingga nilai-nilai positif dapat terserap dengan baik.
Harapan ke depan, sinergi antara penguatan akademik dan pembinaan karakter ini dapat melahirkan generasi muda yang tidak hanya siap menghadapi tantangan intelektual, tetapi juga memiliki integritas dan budi pekerti luhur sebagai bekal kehidupan di masyarakat.















